Selasa, 28 November 2017

Matius 25:31-45 MINGGU PENGHUJUNG TAHUN GEREJA - PERINGATAN ORANG MENINGGAL

Matius 25: 31-46
Minggu Akhir Tahun Gereja-Peringatan Orang Meninggal
Minggu 26 November 2017 Pukul 18.00 WIB




31.  "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
32.  Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
33.  dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
34.  Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
35.  Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
36.  ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
37.  Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
38.  Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
39.  Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
40.  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
41.  Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
42.  Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
43.  ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
44.  Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
45.  Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
46.  Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."
46.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Perikop khotbah hari ini adalah sebuah metapora, penggambaran penghakiman. Matius penulis Injil ini memberitakan bahwa Yesus kelak akan datang kembali. Pada ayat 31, Yesus disebut dengan “Anak Manusia” yang akan datang kembali sebagai hakim dunia, menghakimi manusia dan dunia. Yesus datang dalam penyangkalan diri. Dia tidak datang dalam kemewahan, tidak juga dalam kemegahan. Dia datang sebagai orang terpinggirkan, sebagai orang lapar, sebagai orang miskin, sebagai orang telanjang. Demikian dicatatkan oleh penulis Injil Matius. Betul, saudara-saudara 2017 tahun yang lalu Yesus datang dalam kerendahan, lahir di kandang domba. Tuhan di dalam Yesus Kristus datang tidak dengan kemegahan dunia. Dia yang adalah pemilik, pencipta seperti dikatakan Mazmur 95:1-7a “…Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.” Tuhan di dalam Yesus Kristus datang menemui kekasih-Nya, menemui umat-Nya dalam kerendahan. Rasul Paulus mengatakan Tuhan mengosongkan diri (kenosis: Fil. 2:7).

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Lebih bijaklah saat bertemu dengan orang-orang miskin di sekelilingmu. Karena Tuhan bisa hadir dalam keadaaan tersebut. Hati-hatilah dan perdulilah dengan orang lapar, orang haus, orang telanjang, orang terpinggirkan.
Tentulah telanjang menurut Alkitab berbeda dengan telanjang menurut pengertian kita sehari-hari, secara khusus menurut pengertian orang Indonesia. Sangatlah penting bagi kita untuk memahami bahwa kata ‘telanjang’ di dalam Alkitab ini tidak diartikan secara harfiah yaitu tidak memiliki sepotong pun pakaian. Akan tetapi, kata ‘telanjang’ di dalam Alkitab ini adalah suatu ungkapan tentang keadaan seseorang yang tidak memiliki pakaian yang layak seperti misalnya Anda tidak memakai jubah. Di dalam pengajaran alkitabiah pakaian atau jubah luar adalah hal yang sangat penting. Jika Anda tidak memiliki jubah luar, maka Anda dipandang seolah-olah telanjang karena jubah luar sudah dianggap seperti kulit Anda. Kadang-kala jubah ini bisa dilepaskan, namun hanya di bawah keadaan-keadaan tertentu saja, misalnya demi melunasi hutang. Jika Anda tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan sebagai jaminan hutang Anda, maka Anda bisa memanfaatkan jubah Anda sebagai jaminan. Akan tetapi jubah ini sangatlah penting bagi setiap orang sehingga pada saat matahari terbenam, ia harus dikembalikan. Hukum Taurat mensyaratkan agar pakaian luar ini dikembalikan kepada pemiliknya karena ia memerlukannya sebagai selimut di malam hari. Tanpa pakaian luar ini, mereka bisa jatuh sakit karena suhu di malam hari di Palestina cukup dingin walaupun pada umumnya cuaca pada siang hari agak panas. Kata ‘telanjang’ juga merujuk kepada fakta bahwa orang tersebut tidak memiliki pakaian yang layak. Sebagai contoh, seseorang bisa saja berpakaian compang-camping akibat kemiskinannya. Jadi, sekalipun ia memiliki pakaian luar, ia masih bisa dianggap ‘telanjang’ karena kondisi pakaiannya yang sangat lusuh. Artinya adalah jangan kita, sampai tidak memberikan kehangatan kepada yang lain. Kehangatan itu adalah semangat, suka cita, optimisme hidup. Jangan pernah tidak berperan sebagai pemberi kehangatan, pemberi semangat hidup kepada orang lain. Jangan pernah berhenti menjadi sarana suka cita kepada orang lain. Kelak Yesus berkata: Ketika aku kekurangan suka cita, kamu tidak datang memberi suka cita kepadaku. Jangan penah absen memberi semangat kepada saudaramu! Kelak Yesus berkata ketika aku patah hati kamu di mana?
Injil Matius mengatakan penghakiman Tuhan akan datang pada waktunya! Kita akan ke hadapan Tuhan ketika penghakiman itu terjadi. Tuhan akan bertindak seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Pemisahan domba dan kambing berkaitan dengan perbedaan karakter mereka.
Marilah kita pelajari tabiat Domba dan kambing. Tentu saudara pernah menontong film kartun Shaun the sheep. Kambing adalah hewan yang egoistis, tidak perduli dengan sekeliling. Ketika makan, kambing cenderung membelakangi kambing lain, dan kotoran semaunya. Cederung menerobos pagar untuk menjangkau makanan, dan setiap tanaman yang dia singgahi akan layu dan mati. Kambing, hewan yang sangat individualis, tidak punya kebiasaan untuk saling berdempetan. Mereka baru mau melakukannya jika Anda memaksa, karena jika ada pilihan maka mereka lebih suka untuk bertindak semaunya sendiri, saling menjauhi. Akibatnya, mereka tidak bisa saling menghangatkan dan perlu ditempatkan di dalam kandang pada malam hari. Itu sebabnya mengapa para gembala memisahkan domba dan kambing di petang hari. Kambing adalah gambaran Kristen palsu. Gembala akan menempatkan kambing di tempat yang lebih hangat, di sebelah kiri.
Berbeda dengan domba. Maka Matius mencatatkan domba-domba akan di tempatkan di sebelah kanan, di tempatkan di tempat terbuka. Karena domba memiliki bulu tebal, Domba bisa ditaruh di tempat terbuka karena mereka akan saling menghangatkan satu dengan yang lain dengan cara saling berdempetan. Dengan cara ini, mereka menjadi hangat. Ada lagi perbedaan menarik yang lainnya antara domba dengan kambing. Di Palestina, domba, sebagaimana halnya yang sering kita lihat juga di tempat-tempat lain, biasanya berbulu putih sementara kambing cenderung berbulu hitam. Ini memberikan gambaran yang menarik tentang perbedaan yang kasat mata antara domba yang putih dengan kambing yang hitam. Memang ada juga kambing berbulu putih di negara-negara barat, namun sungguh menarik betapa kambing-kambing yang diternak di Palestina berbulu hitam. Domba sangat tergantung dari kehadiran sesama domba, domba tidak dapat hidup sendiri, domba membutuhkan dan membertikan kehangatan kepada sesama domba, domba tak bisa hidup tanpa gembala.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Sebagai anggota jemaat gereja Tuhan, juga digambarkan sebagai domba gembalaan-Nya, tentulah kita tak mampu hidup tanpa gembala, yaitu gembala yang baik Yesus Kristus. Kita sangat, sangat, membutuhkan pimpinan-Nya, kita sangat membutuhkan kehadiran-Nya, kita sangat membutuhkan firman-Nya, kita sangat membutuhkan penyelenggaraan-Nya.
Siapakah di antara saudara yang senang merapat berdempetan satu dengan yang lain membentuk Formulasi anak-anak Tuhan untuk memberikan kehangatan satu dengan yang lain? Melakukan kebaikan satu dengan yang lain?
Maka Raja itu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Domba-domba itu berkata: “Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”

Karena orang yang percaya kepada Tuhan, tidak pernah menghitung-hitung perbuatan baik yang dia lakukan. Kebaikan baginya adalah ucapan syukur, hidup baik adalah karakter.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Kita percaya, bahwa Tuhan akan datang sebagai hakim. Kita percaya itu, dan kita juga adalah bagian umat Tuhan yang tidak akan pernah berhenti melakukan kebaikan.

Minggu hari ini, kita telah mendengar di tahun 2017 ada 19 orang anggota jemaat yang meninggal dunia. Bagi mereka kesempatan untuk berbuat baik sudak tidak ada lagi. Tetapi bagi kita kesempatan untuk melakukan kebaikan masih panjang dan masih luas. Marilah kita tingkatkan kebaikan hati kita kepada siapapun, tanpa pernah menghitung-hitungnya.

Demikian juga kepada orang yang hidupnya egois seperti kambing, tidak pernah perduli kepada yang lain, Tuhan akan mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Kemarin malam pukul 20.00 WIB di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, ada seorang anggota jemaat yang menerima pelayanan Perjamuan Kudus karena sakit kronis yang beliau derita. Tidak lagi cukup tenaga baginya untuk berbicara. Untuk menjawab setiap pertanyaan hanya lewat senyuman dan gerakan jari tangan, ketika menjawab setiap pertanyaaan saat menerima Perjamuan Kudus tersebut. Setelah acara Perjamuan Kudus dia terima, bapak tersebut senyum bahagia seakan mengatakan aku akan pergi. Dan hari ini kita menerima kabar berita bahwa bapak tersebut sudah meninggal dunia. Ada rasa bahagia ketika kita hadir di samping orang yang menghapai sakratul maut.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Marilah kita semakin giat memberi kehangatan kepada sesama, kepada siapapun dan jangan pernah menghitung-hitungnya! Jangan pernah mengharapkan balasannya! Biarlah Tuhan yang menghitungnya!

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Minggu depan adalah Advent Pertama tahun baru gereja. Jemaat dan domba gembalaan Tuhan jaman now, marilah hidup baru dengan hidup seperti kawanan domba Tuhan, memiliki kasih yang prima, dengan persekutuan yang prima seperti domba yang di tempatkan di sebelah kanan Tuhan. Tuhan melihat kita dari cara hidup kita apakah sesuai dengan iman kita kepada-Nya! Amin.

Pdt. Nikson Simangunsong

Minggu 26 November 2017 Pukul 18.00 WIB

Jumat, 24 November 2017

Astuan: MARHATA SINAMOT

MARHATA SINAMOT




Ia ojahan ni adat pangolihon anak: Mangalehon sinamot tu parboru. Parboru i pe antong manjalo sinamot do boli ni boruna sian paranak. Asal ni hata “boli”, ro sian hata,”oli.”
Magodang Anak dipangolihon = pinangolihon.
Balga Boru dipabolihon = pinabolihon.
Manang: Mongolihon anak, pabolihon boru,
Alai jumotjot tadok: pamulihon boru, ala humalus, sumantun begeon ni pinggol. Muli tu hutana = sahat tu hutana.
Asa paranak magalehon sinamot, parboru manjalo sinamot. Pajumpa ma di adat i: Mangalehon dohot manjalo di bagasan halalas ni roha na gok. Ai ulaon mangolihon anak dohot pamulihon boru do ulaon na umbalga di masyarakat. Na sanggup mangulahon i, i ma na masuk tu horong ni pangituai di na saompu.
Adong do na mandok: Ia lapatan ni hata ”boli” (beli) = tuhor (tukar) do. Jala dapot do antong hasaksianna sian pandohan “Manjalo tuhor ni boru.” Jadi hata on ma dipangke bangso sileban mangaleai hita. Gabe didok hita “hatoban” santabi, ala tapamuli borunta marboli, marsinamot, marsero. Anggo bagas ni lapatan ni na  “marboli” i tu roha ni bangsonta, nang apala diparrohahon. Didok ma tahe songon barang tigatiga di onan boru i di rohanta. Tuani ma salpu tingki i, ai nunga mardeka hita. Ndang sai paingotingoton be lea ni roha ni bangso sileban i mida parsaripeon ni bangsonta. Tingki do muse pauba i molo so porlu be marboli, marsere, marsinamot, marjujuran.
Ia dung saut marsijaloan tanda anak dohot boru i, disungkun paranak ma parboru sadihari nasida ro marhata sinamot siboanon nasida, boli ni boru i. Jotjotan dung jolo marhusip, di bahat ni sinamot. Di ari na binuhul, borhat ma pangoli raphon sisolhotna tu huta ni parboru. Nunga pungu didapot nasida disi sisolhot ni parboru paimahon haroronasida.
Na ginoar parboru di adat i, i  ma:

·        Ama na sumuan = suhut sihabolonan;
·        Haha, anggi dongan saama = sijalo bara;
·        Dongan saompu = sijalo todoan, pangkaei;
·        Dongan saama mangulahi = sijalo bola tambirik;
·        Tulang, iboto ni ina = sijalo upa tulang;
·        Pariban = haha ni boru sipamulihon i manang namboru sijalo upa pariban;
·        Iboto ni boru naung hot ripe = simandokkon;
·        Baoa naung hot ripe sian na saama i = anak manjae ;
·        Ompu suhut dohot Ompu bao = ompu;

I ma na ginoar parjambar na gok, sihataon di jabu, dang sihataon di lapik (alaman). Asa di tingki na marhata sinamot i, pangu ma nasida sude olopolopan ni paranak.Na ginoar paranak, suang le do songon totoran susunan, ni parboru i. Di na mulai marsipanganon sude na pungu i, didok sada halak sian horong ni parboru ma hata “sidumaduma mangan”, tar songon on: Hamu tondongnami, raja ni boru na ro tu hutanami on!

Didok umpama:

Marbau tanduk, marbau holiholi;
Godang sibutongbutong, otik sipir ni tondi.
Tung so sadia pe sipanganon i,
Pamurnas ma i tu daging; saudara tu bohi;
Horas ma na manganhon, horas na mangalehon.

Adong do deba na mandok umpama on:

Sihingkit sinalenggam, golanggolang pangarahutna,
Tung so sadia pe sipanganon, na rade di jolonta,
Sai godang ma pinasuna, I ma, tutu!

Dungi dialusi sahalak sian horong ni paranak ma hata i, ninna ma:

I ma tutu rajanami, raja ni hulahula,
Gabe ma na mala, gabe ma na nilean,
Godang do sipanganon na nilehonmuna,
Ba godang ma di hamu pinasuna,
Tu joloan ni ari on. Botima!

Parboru: I ma tutu, hamu raja ni parboruon! Sahat ma na uli, ro ma na jagar di hita on luhutna!

Rap mandok: I ma tutu !

Dung sidung mangan, diduduk pinggan panganan, mangkuk panginuman, dipasimpan ma jolo na margoar ni sipanganon (ai molo saut na hinataan, sipasahaton do i sude tu paranak na ro marhata sinamot i) dipungka nasida ma mangkatai dung masipulos parisapanna be.

Parboru:      Mangkatai ma hita, hamu raja ni parboruan, na moranami: Nunga ni arbis nangkin di hata sidumaduma mangan i, taringot di sipanganon naung itapangan i di jabu na marsangap na martua on, sigomgom pangisina. Tung so sadia pe i nuaeng sipanganon na jinalomuna i, sai parhorasan ma i pardinginan, sipinta pansamotan tu joloan ni ari on. Ia tung na mangholit hami antong rajanami, ba sai ganda na hinolit, asa laon panganhononhon. Horas ma hamu na ro, horas hami na nidapotmuna! Boti ma hatanami!

Paranak:  Olo rajanami, raja ni hulahula na hudapot hami di ruma na marampang na marjual na marsangap na martua on! Nunga hupangan hami sipanganon i, nunga hinabutongkon, jala juhut na marsaudara i hinamahaphon!  Asi ma roha ni Tuhannta Debata, ditambai ma sinadongan ni hamu hulahula na mangalehon sipanganon on. Songon i antong sinadongannami! Songon nidok ni umpama ma: Ia tambor bonana, Rugun ma dohot punsuna, Ia gabe, maradong hulahula. Sai songon i ma nang dohot boruna. I ma tutu!

Parboru:      Olo na moranami, raja ni parboru on! Sai saut ma antong na sinitasita ni rohanta:  
Tubu ma lata, di bona ni bungabunga;
Tubu ma anak na marsangap dohot boru na martua,
Di hita on luhutna. I ma tutu!

Ranting ni bulu, jait marjaiotan,
Siangkup ni na uli, sidonganna songon na hundul.
I ma sitaringotan.
Siala haroromuna tu jabu on, ai patumpol nuaeng dison:
Pat ni Gaja, tu pat ni Hora,
Anak ni raja, pahompu ni na mora.

Tontu adong ma sitaringotan di adong roha ni pananginangi na liat na lolo on:
Hata na uli, hata na denggan, sibegeon ni pinggol,
sipeopon ni roha, boti ma hatanami!
Dungi masiberengan ma na pungu i. Las rohanasida umbege tangkas  ni parhataan i na niadophon tu paranak na ro tu huta i mangalangkahon simanjojak, mangoalhon oal soada mara, mangomarhon simalolong tu siamun hambirang, paelengkon sipareon pabegebege soara ni baliga ni partonun na masiualusalusan.

Paranak:      Dung masileanan hata horong paranak na ro i, mangkuling ma sada sian nasida, ninna ma:
             “Olo rajanami, patorangon ma tutu na hulangkahon hami tu huta on, di antaran na bidang on. Ia tung adong annon hata na hurang lobi, ba nanget hita masiadjaran. Ai, Ampapaga dolok, ampapaga ni humbang, hita do marsogot, hita nang hadua. Ai olat ni solhot, ni partondongonta on, nama partondongan, naung masa di hita Batak.

Ba, ia anaknami si ……………….. sai ro mardalani tu huta on. Dijalo pangisi ni huta on antong, so dung hea hona hata, nang pe hurang malo maruhum. Ba di ujuna, nunga unduk masioloan anak nami dohot borumuna asa hot ripe. Bai i do na pinarsinta ni rohanami! Ai molo magodang anak pangolihononhon, magodang boru pamulion. Na saihot do i, saparanggunan. Ba, haroronami on pe, na pasahathon anaknami i masa asa gabe anakmuna. Ai na nidok na:  Na ro do hami pasahathon anaknami i asa gabe  helamuna, naeng ma tarunduk haoloan manang sadia utang siampehononmuna. Alai nidok pe songon i, tongtong do sigodang utang parboruon tu parhulahula. Buhul hamu ma disi, sadia utang sigararonnami. Asal ingot hamu umpama i:

Madekdek ma lanteung, tongon tu tarumbara.
Unang dok hami parteus, silehonon do soada.
Boti ma hatanami !

Parboru: Ba, nunga binege hata ni hamu paranak. Godang ma pasahat hamu sinamot, boli ni boru i, ai parsinamot na godang do hamu. Jala on dope raja i parhulalan matumona mangolihon anak. Nda na naeng helanami on do buha ni raja i?
Paranak:       “I do tulang”, ninna sada halak mangalusi.
Parboru:    “Ba, anggo i do hape, ba guru doknami nama mangido! Tole ma panggomakkon hamu ma na sian i jambarnami be! Ai tung boli ni boru ma na tumabo jaloon di siulubalang ari on!” (Margakargak ma sude na pungu i umbege hata ni parboru i. Dungi masiigilan ma nasida di sinamot upa suhut sihabolonan sijaloon ni ama ni boru i. Tung nania do lelengna dihatai nasida i, asa marune tu na denggan. Dungi dihatai nasida ma muse jambar ni sijalo bara, todoan, bola tambirik, tulang pariban, upa ompu, simandokkon dohot jambar ni anak manjae, i ma ginoar parjambaran na gok. Dungi dipasahat nasida ma ,”bohi ni sinamot” tu suhut sihabolonan. Songon i nang “patujolo ni jambar” tu pangalambungi. Sidung i, diganupi ma na pungu i “pasituak na tonggi” asa lam tu tonggina parnidaan tu joloan on. (Adong do na mamangke hata “parniahapan” singkat ni “parnidaan”). Dungi marhata sigabegabe, sidenggandenggan ma nasida.

Paranak:        Hamu rajanami, hulahulanami! Nunga masiunduhan masioloan hita di godang ni sinamot. Nasa hatanami na hurang lobi nangkin di na masiigilan hita, unang be taingot i! Tasalpuhon ma i sian roha.
Ai didok umpama:
Purpar pande dorpi, lao tu dimposna; sip parmihimmihim, lao tu hotokna parlotingan di tombonan, baen parsisiraan, asal ma tondinta masigomgoman, Jadi do hita masisaritaan, alai unang antong masihabitan. Ai rujiruji do sinamot, holong i ndang jadi mago. Boti ma hatanami !

Parboru:         Olo tutu, hamu raja ni parboruon, songon i do hataon sinamot boli ni boru! Nunga godang sai naeng na hurang godang; Boasa? Ala jotjotan masa, ranggas tumutungi bonana, Ala godang ni sihobasan mangoloi pangidoan ni boru, ro di nasa sipatupaon. Nuaeng pe, asi ma roha ni Tuhanta Debata di hamu parboruon! Sai silu ma antong pansarianmuna, asa tarlehon hamu sahat sasude sinamot na niunduk, nioloanmuna. Tiur ma dalan tu jae, manalutus dalan tu julu, bolusonmuna, mangaluluk pansarian. Balintang ma pagabe, tumondangkon sitadaon, Horas ma hita jala gabe, Jala olo masiolan, Asa saut haroan marharoan. I ma tutu! (Ninna sude na pungu i)

Parboru:         Ia on pe nuaeng, hamu paranak! Jujur hamu ma ari, sadihari haroronami “maningkir lobu”. Marguru di hamu do i! Alai naeng ma tumibu botoonnami, asa diboto dongan manarihon langkanan. Ai nania do sian hami martigatiga dohot parkarejo masuk malam.

Paranak:        Antong ro pe hatanami paboahon ari harorormuna. Di bulan na ro on ma i mareakhon tula.

Dungi dihobasi suhut i ma sipanganon siboanon ni pangoli i. Dipamasuk ma sude na margoar ni juhut i tu bagasan parindahanan na imbaru. Dipanuti ma i denggan. Alai molo adong boru tondong nasida di huta i, leanonnasida do jambar ni i, ai i do adatna. Boru pandongani ni nasida i ma mamboan parindahanan na pinahutan i, dingkan pudi mardalan. Hasangapon do i dietong, marhahipason ibana mangihuthon hulahulana dohot marhata sinamoti. Ndada haleaon.
Dungi borhat ma parboru tu huta ni paranak di ari na binuhul pasaut adat i “Maningkir lobu”. Maningkir lobu patamba harorosu ni pihak paranak tu pihak parboru. Alai sai adong do na padomuhon na dua i gabe sada. Ulaon na marhata Sinamot i, laos i ma maningkir lobu. Sian dos ni roha. Satonga be ma nasida di harugian tu juhut na binuat di tingki i. Jotjotan masa i ala hudus ni langka ni pangoli manopot ulaonna tu luat na dao. Asa marguru tu tingki do hajajadi ni ulaon paradatan i. Ndada marguru di panjujuron ni datu be. Lam leleng lam jotjot, lam sesa ma pasipasi ni hasipelebeguon.

Nikson Simangunsong

Nisalin sian ragam buku dohot paradaton na nidohotan

Kamis, 11 Mei 2017

ADAKAH KITAB NEHEMIA MENGILHAMIMU BAPAK AHOK?



SIKAP SEORANG PEMBESAR

(Nehemia 5:14-19)

Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.
Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah.
Aku pun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu.
Duduk pada mejaku orang-orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami.
Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi hak bupati, karena pekerjaan itu sangat menekan rakyat.
Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.

(Nehemia 5:14-19)


     Nehemia memakai kedudukan dan kekayaannya untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan memberatkan mereka. 

     Berbeda dengan kebiasaan para pendahulunya adalah mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan dari kedudukannya; empat puluh syikal perak (yang diambil dari seluruh rakyat dalam satu hari (a.15). 

    Perikop sebelumnya menceritakan juga, tentang bagaimana ada dari kaum Israel yang memberatkan sesama orang Israel, yang dipaksa menjual ladangnya, padahal tanah Israel adalah warisan Allah (bnd. Imamat 25). 

     Nehemia tidak menerima pajak yang menjadi haknya (a.18), karena dia melihat bahwa rakyat sudah terbeban dengan pekerjaan membangun tembok Yerusalem saat itu. Nehemia juga memakai kekayaan pribadinya, yang dia dapatkan dari kedudukannya sebagai juru minuman raja, untuk pembangunan tanah Israel .

    Dia tidak memberatkan rakyat Israel, karena dia takut akan Allah (a.15), justru memberikan uangnya sendiri, karena dia menganggap itu kesempatan untuk memakai uang yang dianugerahkan Allah kepadanya untuk pekerjaan Allah.

    Teladan Nehemia diangkat sebagai perbandingan, bukan hanya terhadap para pendahulunya tetapi terhadap rakyat Israel sendiri.

    Saya teringat keadaan negaraku sekarang ini. Bahwa sekarang bukan hanya para pembesar yang main korupsi jika ada kesempatan!

     Nehemia adalah teladan untuk penguasa sekarang, lebih lagi dia adalah teladan untuk orang percaya.

    Tempatkan pekerjaan Allah pada jenjang yang prioritas. Takutlah akan Allah dan giatlah dalam memperluas kerajaan-Nya.

     Adakah Kitab Nehemia mengilhamimu juga bapak Ahok? 


Sabtu, 04 Maret 2017

J A M P A L A N

JAMPALAN NA LOMAK






Kiasan tentang tanah datar yang luas subur dan baik untuk peternakan. Kiasan ini sering disampaikan ketika dalam percakapan menyampaikan kata sambutan/petuah, yang merupakan suatu kata berkat dan harapan.  Misalnya: "... sai jumpangan ma hamu jampalan na lomak..." (kiranya memperoleh tanah datar yang luas dan subur).

Makna ungkapan ini adalah tanah datar yang luas dan subur akan dikelola dengan baik sehingga memberikan kesejahteraan/kemakmuran (meningkatkan taraf kehidupan ekonomi yang lebih baik).

A M P A P A G A




AMPAPAGA atau Daun Kaki Kuda dikenal dengan sebutan Pegagan: Tumbuhan ini di Indonesia mempunyai bermacam-macam nama sesuai dengan daerah daerah. Di Jawa dikenal dengan Calingan Rambat, di Sunda: Antanan Rambat, di Makasar: Pegaga, dan di Tapanuli tano Batak disebut Ampapaga. 

AMPAPAGA NA LOMAK Sebagai gambaran hijaunya kehidupan (Kehidupan sejahtera Jasmani dan Rohani karena tersedianya tanah subur yang penuh dengan tanaman hijau dan subur).

Makna ungkapan ini adalah tanah yang luas dan subur yang akan dikelola untuk bertanam dengan baik sehingga memberikan kesejahteraan/kemakmuran (meningkatkan taraf kehidupan ekonomi yang lebih baik).

Keadaan kehidupan yang demikianlah dambaan anak Batak sehingga harus kerja keras, tangguh dan harus dengan kejujuran .


TANGIANG PANGONDIAN-SYAFAAT

Tangiang Pangondian


di  Taon 2017 di Huria i





Ale Amanami na di banua ginjang marhite Jesus Kristus Tuhannami! 
    
    Napaluahonhami huriaM manaithami gabe anak di harajaonMu. Mauliate di asinirohaM. Sai rajai ma marhitehite Tondi Parbadia huriaM HKBP Pondok Gede, asa mian di hami poda na pinodahon ni HataM. Sai patogu ma haporseaonnami, asa lam diboto mangihuthon HataM, jala asa lam hutandahami hangoluan na sian Ho i. Pasupasu ma HataM na dijamitahon, asa lam rarat harajaonMu jala monang, jala asa talu harajaon ni sibolis. 

    Pasupasu ma Pamarenta rap dohot angka donganna na gumomgom hami, sai lehon ma tu nasida hapistaran na sian Ho i, asa diboto mangaturhon aturan na denggan na tau pasangaphon GoarMu. Pasupasu ma sasudena ama, ina, angka dolidoli dohot anakboru ro di dakdanak, angka na marsikola mangguruhon HataM. Dohot sude program ni huriaM HKBP Pondok Gede naung ditotophon ulahononhon di taon 2017: Taon Pendidikan Pemberdayaan HKBP, Parmingguon Sikola Minggu, Parmingguan Remaja, Parmingguon namagodang, Sermon Parhalado dohot Sermon Kategorial, Pelean Taon, Gugu Toktok Ripe, Pamilliton calon Sintua, Pembangunan Bilut Parhobasan, rumah duka  dohot Kamar Mandi. Angkup ni i sai pagabe ma saluhut na niula (pegawai, partigatigaan, karyawan, swasta, guru, TNI, Polri, ojek, supir taksi, tempel ban, buruh, mahasiswa, parsiajar), jala sai padao ma nasa na tau mangago hami. Asi ma rohaM di saluhut na mabalu dohot di angka dakdanak na sopot so marama so marina. 

     Tatap ma saluhut na pogos, na marsahit ro di angka na naeng mate dohot na marsak binahen ni soro ni ari. Ho ma ale Tuhan Jahowa, amanasida dahot pangondianna, ai Ho do Sipangolu hajolmaon. Sai padungo ma hami sasudena, asa unang dipaotooto sibolis hami. Alai pamonang ma hami maralohon rohanami na jahat i, asa tarpabongot Ho hami tu harajaonMu na di banua ginjang i.
     
     Sai oloi ma pangidoannami, ale Tuhan Jahowa, marhitehite Jesus Kristus, Tuhannami, na tarpuji rap dohot Ho dohot Tondi Parbadia ro di saleleng ni lelengna. 

     Amen.

SONGON ON MA HAMI PATANAKHON HATA NI DEBATA NAPOSOBULUNG HKBP DAME RESORT PULO JAHE

  Shalom semua ✨ Selamat beraktifitas 🙌   Mari kita datang memuji dan memuliakan nama Tuhan dalam Ibadah Penelaahan Alkitab Naposobulung  H...