Rabu, 29 November 2017

ANIMO MAGIS QUAM CORPORE AEGRI SUNT



ANIMO MAGIS QUAM CORPORE AEGRI SUNT
Oleh: Pdt. Saut Silitonga, M.Pil
(Pendeta HKBP 
Resort Parsaoran Nauli-Banualuhu 
Distrik XVI Humbang Habinsaran)




Kalimat di atas adalah sebuah falsafah Latin kuno. Kalimat ini berasal dari filsuf dan penyair istana kekaisaran Romawi pada jaman kaisar Nero yang bernama Marcus Annaeus Lucanus yang hidup pada tahun 39-65 Masehi. Kelihatan umurnya sangat singkat hanya lebih kurang 26 tahun. Kenapa ia berumur singkat adalah karena ia menerima hukuman mati dari kaisar, dua tahun sebelum kaisar Nero berakhir. Ia dijatuhi hukuman mati, dikisahkan bahwa kalangan istana tidak menyukainya oleh karena pikiran-pikiran filosofisnya yang tertuang pada syair-syair yang ia tulis. Ia difitnah oleh kalangan istana, ia dituduh sebagai salah seorang yang bersekongkol untuk menjatuhkan kaisar Nero.
Adapun arti kalimat di atas, kita terjemahkan secara sederhana adalah seperti ini: Penguasa lebih cenderung mengalami sakit jiwa  daripada sakit jasmani.  Tentu, kita boleh bebas unutk memahami ungkapan ini. Apakah kita setuju atau menolaknya itu tergantung dari kacamata atau cara pandang kita untuk menalarnya; hanya saja kelihatannya Lucanus memandang bahwa kekuasaan itu cenderung bermuatan negatif. Ini disebabkan karena, sejujurnya bahwa kekuasaan sangat mengiurkan dan sungguh mempesona kendati pun ia hanya berupa konsep bukan berupa fisik. Oleh karena pesonanya yang luar biasa, maka kenyataannya ia selalu diperebutkan. Selanjutnya untuk meraihnya dan ada dalam genggamannya, orang melakukannya dengan segala macam cara; dengan cara jujur atau dengan cara curang, dengan cara yang benar atau dengan cara yang salah, dengan cara yang baik atau dengan cara keji sekalipun. Tentu, ketika seseorang yang hendak berkuasa lalu ia melakukannya dengan menghalalkan segala cara, mungkin di situlah yang dimaksudkan oleh Lucanus, sudah mengarah ke arah sakit jiwa. Selanjutnya, orang yang sedang berkuasa, kecenderungannya adalah selalu berusaha untuk memperlihatkan atau mempertontonkan kekuasaannya, mempertahankannya, bahkan jika boleh berusaha untuk memperluasnya. Akan tetapi kita perlu mencatat atau mengaris bawahi bahwa penguasa, sebagaimana pembahasan kita saat ini, tidaklah serta merta sama dengan apa yang disebut dengan pemimpin. Jadi, dalam hal ini kita harus membedakannya. Sebab, dalam pemahaman saya, bahwa penguasa adalah ada dalam konteks power, sedangkan pemimpin ada dalam konteks manage. Mudah-mudahan pemahaman saya ini tidak keliru.
Sejalan dengan ungkapan Lucanus di atas, seorang keturunan bangsawan Jerman-Inggris yang bernama John Emerich Edward Dalberg Achton (1834-1902) yang sering disebut Lord Achton, menuliskan seperti ini: “… power tends to corrupt and absolute power corrupts absoluty…,” lalu sejak kalimat ini diungkapkan sampai saat sekarang, sangat sering menjadi referensi dan dikutip orang apabila memberikan komentar terhadap segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kekuasaan, terlebih-lebih pada saat ini yaitu mengenai korupsi. Arti kalimat tersebut secara sederhana adalah kekuasaan cenderung berbuat jahat, dan jika kekuasaan itu menjadi tidak terbatas maka kecenderungan berbuat jahat pun akan tidak terbatas pula. Tentu, korelasi yang dapat kita lihat dari pemikiran Lucanus dan Sir Achton adalah bahwasanya kekuasaan yang tanpa batas dan semena-mena, itulah yang cenderung menimbulkan sakit jiwa.
Kembali kepada masa hidup Lucanus, di mana ia berkarya pada jaman kaisar Nero. Sudah dapat kita banyangkan betapa tersinggungnya kaisar Nero membaca dan mendengarkan puisi filosofis tersebut. Mungkin saja ungkapan ini tidak ditujukan kepadanya, akan tetapi oleh karena yang berkuasa saat itu adalah dia sendiri maka ungkapan itu seolah-olah hendak menyindirnya. Maka, ketika kalangan istana memfitnahnya sebagai salah seorang yang hendak mengkudeta sang kaisar, maka kaisar pun dengan mudah mempercayainya.
Terlepas dari itu, kita mengetahui dalam sejarah gereja bahwa Nero adalah salah satu kaisar Romawi yang menjadi tokoh kelam bagi kekristenan. Ia adalah seorang momok yang menakutkan, bukan yang dicintai. Bukankah diceritakan bahwa ia begitu banyak mengorbankan orang-orang beriman itu? Diceritakan lagi, bahwa suatu ketika ia pun membakar sebagian kota Roma, lalu kemudian ia menjatuhkan tuduhan berupa fitnahan, bahwa yang melakukannya adalah orang-orang Kristen. Dan hasilnya pada saat itu adalah setiap orang membenci orang Kristen.
Tentu, tidak semua penguasa cenderung mengalami sakit jiwa. Hanya penguasa yang sewenang-wenanglah kemungkinan mengalami hal seperti itu. Dan juga dapat dipastikan bahwa ada banyak penguasa yang dicintai oleh karena kekuasaan yang ia genggam benar-benar dengan setulusnya dipergunakan untuk kebaikan kota, kebaikan lembaga dan untuk kebaikan bangsa dan negara sebagimana yang dicita-citakan oleh Plato, sang filsuf pencetus Politeia itu. Tentu penguasa yang seperti inilah yang kita dambakan dan kita cita-citakan. Animo magis quam corpora aegri sunt. Kesakit jiwaan manusia yang berkuasa yang serta merta akan muncul adalah apabila ia merasa ada di atas segala-galanya, merasa super, menempatkan diri menjadi setengah dewa, haus akan puja dan puji serta keinginan untuk dikultuskan. Tentu, hal-hal ini sangat perlu untuk direnungkan. Akan tetapi, memegang kekuasaan tidaklah sebuah dosa, hanya jangan sampai mengarah ke arah seperti yang dikuatirkan filsuf yang satu ini, Marcus Annaeus Lucanus. Semoga!
Dikutip dari Surat Parsaoran HKBP Immanuel
No.04/April 2016/Tahun ke 126 Halaman 73-74

Selasa, 28 November 2017

Matius 25:31-45 MINGGU PENGHUJUNG TAHUN GEREJA - PERINGATAN ORANG MENINGGAL

Matius 25: 31-46
Minggu Akhir Tahun Gereja-Peringatan Orang Meninggal
Minggu 26 November 2017 Pukul 18.00 WIB




31.  "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
32.  Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
33.  dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
34.  Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
35.  Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
36.  ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
37.  Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
38.  Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
39.  Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
40.  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
41.  Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
42.  Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
43.  ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
44.  Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
45.  Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
46.  Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."
46.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Perikop khotbah hari ini adalah sebuah metapora, penggambaran penghakiman. Matius penulis Injil ini memberitakan bahwa Yesus kelak akan datang kembali. Pada ayat 31, Yesus disebut dengan “Anak Manusia” yang akan datang kembali sebagai hakim dunia, menghakimi manusia dan dunia. Yesus datang dalam penyangkalan diri. Dia tidak datang dalam kemewahan, tidak juga dalam kemegahan. Dia datang sebagai orang terpinggirkan, sebagai orang lapar, sebagai orang miskin, sebagai orang telanjang. Demikian dicatatkan oleh penulis Injil Matius. Betul, saudara-saudara 2017 tahun yang lalu Yesus datang dalam kerendahan, lahir di kandang domba. Tuhan di dalam Yesus Kristus datang tidak dengan kemegahan dunia. Dia yang adalah pemilik, pencipta seperti dikatakan Mazmur 95:1-7a “…Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.” Tuhan di dalam Yesus Kristus datang menemui kekasih-Nya, menemui umat-Nya dalam kerendahan. Rasul Paulus mengatakan Tuhan mengosongkan diri (kenosis: Fil. 2:7).

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Lebih bijaklah saat bertemu dengan orang-orang miskin di sekelilingmu. Karena Tuhan bisa hadir dalam keadaaan tersebut. Hati-hatilah dan perdulilah dengan orang lapar, orang haus, orang telanjang, orang terpinggirkan.
Tentulah telanjang menurut Alkitab berbeda dengan telanjang menurut pengertian kita sehari-hari, secara khusus menurut pengertian orang Indonesia. Sangatlah penting bagi kita untuk memahami bahwa kata ‘telanjang’ di dalam Alkitab ini tidak diartikan secara harfiah yaitu tidak memiliki sepotong pun pakaian. Akan tetapi, kata ‘telanjang’ di dalam Alkitab ini adalah suatu ungkapan tentang keadaan seseorang yang tidak memiliki pakaian yang layak seperti misalnya Anda tidak memakai jubah. Di dalam pengajaran alkitabiah pakaian atau jubah luar adalah hal yang sangat penting. Jika Anda tidak memiliki jubah luar, maka Anda dipandang seolah-olah telanjang karena jubah luar sudah dianggap seperti kulit Anda. Kadang-kala jubah ini bisa dilepaskan, namun hanya di bawah keadaan-keadaan tertentu saja, misalnya demi melunasi hutang. Jika Anda tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan sebagai jaminan hutang Anda, maka Anda bisa memanfaatkan jubah Anda sebagai jaminan. Akan tetapi jubah ini sangatlah penting bagi setiap orang sehingga pada saat matahari terbenam, ia harus dikembalikan. Hukum Taurat mensyaratkan agar pakaian luar ini dikembalikan kepada pemiliknya karena ia memerlukannya sebagai selimut di malam hari. Tanpa pakaian luar ini, mereka bisa jatuh sakit karena suhu di malam hari di Palestina cukup dingin walaupun pada umumnya cuaca pada siang hari agak panas. Kata ‘telanjang’ juga merujuk kepada fakta bahwa orang tersebut tidak memiliki pakaian yang layak. Sebagai contoh, seseorang bisa saja berpakaian compang-camping akibat kemiskinannya. Jadi, sekalipun ia memiliki pakaian luar, ia masih bisa dianggap ‘telanjang’ karena kondisi pakaiannya yang sangat lusuh. Artinya adalah jangan kita, sampai tidak memberikan kehangatan kepada yang lain. Kehangatan itu adalah semangat, suka cita, optimisme hidup. Jangan pernah tidak berperan sebagai pemberi kehangatan, pemberi semangat hidup kepada orang lain. Jangan pernah berhenti menjadi sarana suka cita kepada orang lain. Kelak Yesus berkata: Ketika aku kekurangan suka cita, kamu tidak datang memberi suka cita kepadaku. Jangan penah absen memberi semangat kepada saudaramu! Kelak Yesus berkata ketika aku patah hati kamu di mana?
Injil Matius mengatakan penghakiman Tuhan akan datang pada waktunya! Kita akan ke hadapan Tuhan ketika penghakiman itu terjadi. Tuhan akan bertindak seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Pemisahan domba dan kambing berkaitan dengan perbedaan karakter mereka.
Marilah kita pelajari tabiat Domba dan kambing. Tentu saudara pernah menontong film kartun Shaun the sheep. Kambing adalah hewan yang egoistis, tidak perduli dengan sekeliling. Ketika makan, kambing cenderung membelakangi kambing lain, dan kotoran semaunya. Cederung menerobos pagar untuk menjangkau makanan, dan setiap tanaman yang dia singgahi akan layu dan mati. Kambing, hewan yang sangat individualis, tidak punya kebiasaan untuk saling berdempetan. Mereka baru mau melakukannya jika Anda memaksa, karena jika ada pilihan maka mereka lebih suka untuk bertindak semaunya sendiri, saling menjauhi. Akibatnya, mereka tidak bisa saling menghangatkan dan perlu ditempatkan di dalam kandang pada malam hari. Itu sebabnya mengapa para gembala memisahkan domba dan kambing di petang hari. Kambing adalah gambaran Kristen palsu. Gembala akan menempatkan kambing di tempat yang lebih hangat, di sebelah kiri.
Berbeda dengan domba. Maka Matius mencatatkan domba-domba akan di tempatkan di sebelah kanan, di tempatkan di tempat terbuka. Karena domba memiliki bulu tebal, Domba bisa ditaruh di tempat terbuka karena mereka akan saling menghangatkan satu dengan yang lain dengan cara saling berdempetan. Dengan cara ini, mereka menjadi hangat. Ada lagi perbedaan menarik yang lainnya antara domba dengan kambing. Di Palestina, domba, sebagaimana halnya yang sering kita lihat juga di tempat-tempat lain, biasanya berbulu putih sementara kambing cenderung berbulu hitam. Ini memberikan gambaran yang menarik tentang perbedaan yang kasat mata antara domba yang putih dengan kambing yang hitam. Memang ada juga kambing berbulu putih di negara-negara barat, namun sungguh menarik betapa kambing-kambing yang diternak di Palestina berbulu hitam. Domba sangat tergantung dari kehadiran sesama domba, domba tidak dapat hidup sendiri, domba membutuhkan dan membertikan kehangatan kepada sesama domba, domba tak bisa hidup tanpa gembala.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Sebagai anggota jemaat gereja Tuhan, juga digambarkan sebagai domba gembalaan-Nya, tentulah kita tak mampu hidup tanpa gembala, yaitu gembala yang baik Yesus Kristus. Kita sangat, sangat, membutuhkan pimpinan-Nya, kita sangat membutuhkan kehadiran-Nya, kita sangat membutuhkan firman-Nya, kita sangat membutuhkan penyelenggaraan-Nya.
Siapakah di antara saudara yang senang merapat berdempetan satu dengan yang lain membentuk Formulasi anak-anak Tuhan untuk memberikan kehangatan satu dengan yang lain? Melakukan kebaikan satu dengan yang lain?
Maka Raja itu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Domba-domba itu berkata: “Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”

Karena orang yang percaya kepada Tuhan, tidak pernah menghitung-hitung perbuatan baik yang dia lakukan. Kebaikan baginya adalah ucapan syukur, hidup baik adalah karakter.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Kita percaya, bahwa Tuhan akan datang sebagai hakim. Kita percaya itu, dan kita juga adalah bagian umat Tuhan yang tidak akan pernah berhenti melakukan kebaikan.

Minggu hari ini, kita telah mendengar di tahun 2017 ada 19 orang anggota jemaat yang meninggal dunia. Bagi mereka kesempatan untuk berbuat baik sudak tidak ada lagi. Tetapi bagi kita kesempatan untuk melakukan kebaikan masih panjang dan masih luas. Marilah kita tingkatkan kebaikan hati kita kepada siapapun, tanpa pernah menghitung-hitungnya.

Demikian juga kepada orang yang hidupnya egois seperti kambing, tidak pernah perduli kepada yang lain, Tuhan akan mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Kemarin malam pukul 20.00 WIB di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, ada seorang anggota jemaat yang menerima pelayanan Perjamuan Kudus karena sakit kronis yang beliau derita. Tidak lagi cukup tenaga baginya untuk berbicara. Untuk menjawab setiap pertanyaan hanya lewat senyuman dan gerakan jari tangan, ketika menjawab setiap pertanyaaan saat menerima Perjamuan Kudus tersebut. Setelah acara Perjamuan Kudus dia terima, bapak tersebut senyum bahagia seakan mengatakan aku akan pergi. Dan hari ini kita menerima kabar berita bahwa bapak tersebut sudah meninggal dunia. Ada rasa bahagia ketika kita hadir di samping orang yang menghapai sakratul maut.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Marilah kita semakin giat memberi kehangatan kepada sesama, kepada siapapun dan jangan pernah menghitung-hitungnya! Jangan pernah mengharapkan balasannya! Biarlah Tuhan yang menghitungnya!

Saudara-saudara yang terkasih dalam Nama Yesus Kritus!

Minggu depan adalah Advent Pertama tahun baru gereja. Jemaat dan domba gembalaan Tuhan jaman now, marilah hidup baru dengan hidup seperti kawanan domba Tuhan, memiliki kasih yang prima, dengan persekutuan yang prima seperti domba yang di tempatkan di sebelah kanan Tuhan. Tuhan melihat kita dari cara hidup kita apakah sesuai dengan iman kita kepada-Nya! Amin.

Pdt. Nikson Simangunsong

Minggu 26 November 2017 Pukul 18.00 WIB

Jumat, 24 November 2017

Astuan: MARHATA SINAMOT

MARHATA SINAMOT




Ia ojahan ni adat pangolihon anak: Mangalehon sinamot tu parboru. Parboru i pe antong manjalo sinamot do boli ni boruna sian paranak. Asal ni hata “boli”, ro sian hata,”oli.”
Magodang Anak dipangolihon = pinangolihon.
Balga Boru dipabolihon = pinabolihon.
Manang: Mongolihon anak, pabolihon boru,
Alai jumotjot tadok: pamulihon boru, ala humalus, sumantun begeon ni pinggol. Muli tu hutana = sahat tu hutana.
Asa paranak magalehon sinamot, parboru manjalo sinamot. Pajumpa ma di adat i: Mangalehon dohot manjalo di bagasan halalas ni roha na gok. Ai ulaon mangolihon anak dohot pamulihon boru do ulaon na umbalga di masyarakat. Na sanggup mangulahon i, i ma na masuk tu horong ni pangituai di na saompu.
Adong do na mandok: Ia lapatan ni hata ”boli” (beli) = tuhor (tukar) do. Jala dapot do antong hasaksianna sian pandohan “Manjalo tuhor ni boru.” Jadi hata on ma dipangke bangso sileban mangaleai hita. Gabe didok hita “hatoban” santabi, ala tapamuli borunta marboli, marsinamot, marsero. Anggo bagas ni lapatan ni na  “marboli” i tu roha ni bangsonta, nang apala diparrohahon. Didok ma tahe songon barang tigatiga di onan boru i di rohanta. Tuani ma salpu tingki i, ai nunga mardeka hita. Ndang sai paingotingoton be lea ni roha ni bangso sileban i mida parsaripeon ni bangsonta. Tingki do muse pauba i molo so porlu be marboli, marsere, marsinamot, marjujuran.
Ia dung saut marsijaloan tanda anak dohot boru i, disungkun paranak ma parboru sadihari nasida ro marhata sinamot siboanon nasida, boli ni boru i. Jotjotan dung jolo marhusip, di bahat ni sinamot. Di ari na binuhul, borhat ma pangoli raphon sisolhotna tu huta ni parboru. Nunga pungu didapot nasida disi sisolhot ni parboru paimahon haroronasida.
Na ginoar parboru di adat i, i  ma:

·        Ama na sumuan = suhut sihabolonan;
·        Haha, anggi dongan saama = sijalo bara;
·        Dongan saompu = sijalo todoan, pangkaei;
·        Dongan saama mangulahi = sijalo bola tambirik;
·        Tulang, iboto ni ina = sijalo upa tulang;
·        Pariban = haha ni boru sipamulihon i manang namboru sijalo upa pariban;
·        Iboto ni boru naung hot ripe = simandokkon;
·        Baoa naung hot ripe sian na saama i = anak manjae ;
·        Ompu suhut dohot Ompu bao = ompu;

I ma na ginoar parjambar na gok, sihataon di jabu, dang sihataon di lapik (alaman). Asa di tingki na marhata sinamot i, pangu ma nasida sude olopolopan ni paranak.Na ginoar paranak, suang le do songon totoran susunan, ni parboru i. Di na mulai marsipanganon sude na pungu i, didok sada halak sian horong ni parboru ma hata “sidumaduma mangan”, tar songon on: Hamu tondongnami, raja ni boru na ro tu hutanami on!

Didok umpama:

Marbau tanduk, marbau holiholi;
Godang sibutongbutong, otik sipir ni tondi.
Tung so sadia pe sipanganon i,
Pamurnas ma i tu daging; saudara tu bohi;
Horas ma na manganhon, horas na mangalehon.

Adong do deba na mandok umpama on:

Sihingkit sinalenggam, golanggolang pangarahutna,
Tung so sadia pe sipanganon, na rade di jolonta,
Sai godang ma pinasuna, I ma, tutu!

Dungi dialusi sahalak sian horong ni paranak ma hata i, ninna ma:

I ma tutu rajanami, raja ni hulahula,
Gabe ma na mala, gabe ma na nilean,
Godang do sipanganon na nilehonmuna,
Ba godang ma di hamu pinasuna,
Tu joloan ni ari on. Botima!

Parboru: I ma tutu, hamu raja ni parboruon! Sahat ma na uli, ro ma na jagar di hita on luhutna!

Rap mandok: I ma tutu !

Dung sidung mangan, diduduk pinggan panganan, mangkuk panginuman, dipasimpan ma jolo na margoar ni sipanganon (ai molo saut na hinataan, sipasahaton do i sude tu paranak na ro marhata sinamot i) dipungka nasida ma mangkatai dung masipulos parisapanna be.

Parboru:      Mangkatai ma hita, hamu raja ni parboruan, na moranami: Nunga ni arbis nangkin di hata sidumaduma mangan i, taringot di sipanganon naung itapangan i di jabu na marsangap na martua on, sigomgom pangisina. Tung so sadia pe i nuaeng sipanganon na jinalomuna i, sai parhorasan ma i pardinginan, sipinta pansamotan tu joloan ni ari on. Ia tung na mangholit hami antong rajanami, ba sai ganda na hinolit, asa laon panganhononhon. Horas ma hamu na ro, horas hami na nidapotmuna! Boti ma hatanami!

Paranak:  Olo rajanami, raja ni hulahula na hudapot hami di ruma na marampang na marjual na marsangap na martua on! Nunga hupangan hami sipanganon i, nunga hinabutongkon, jala juhut na marsaudara i hinamahaphon!  Asi ma roha ni Tuhannta Debata, ditambai ma sinadongan ni hamu hulahula na mangalehon sipanganon on. Songon i antong sinadongannami! Songon nidok ni umpama ma: Ia tambor bonana, Rugun ma dohot punsuna, Ia gabe, maradong hulahula. Sai songon i ma nang dohot boruna. I ma tutu!

Parboru:      Olo na moranami, raja ni parboru on! Sai saut ma antong na sinitasita ni rohanta:  
Tubu ma lata, di bona ni bungabunga;
Tubu ma anak na marsangap dohot boru na martua,
Di hita on luhutna. I ma tutu!

Ranting ni bulu, jait marjaiotan,
Siangkup ni na uli, sidonganna songon na hundul.
I ma sitaringotan.
Siala haroromuna tu jabu on, ai patumpol nuaeng dison:
Pat ni Gaja, tu pat ni Hora,
Anak ni raja, pahompu ni na mora.

Tontu adong ma sitaringotan di adong roha ni pananginangi na liat na lolo on:
Hata na uli, hata na denggan, sibegeon ni pinggol,
sipeopon ni roha, boti ma hatanami!
Dungi masiberengan ma na pungu i. Las rohanasida umbege tangkas  ni parhataan i na niadophon tu paranak na ro tu huta i mangalangkahon simanjojak, mangoalhon oal soada mara, mangomarhon simalolong tu siamun hambirang, paelengkon sipareon pabegebege soara ni baliga ni partonun na masiualusalusan.

Paranak:      Dung masileanan hata horong paranak na ro i, mangkuling ma sada sian nasida, ninna ma:
             “Olo rajanami, patorangon ma tutu na hulangkahon hami tu huta on, di antaran na bidang on. Ia tung adong annon hata na hurang lobi, ba nanget hita masiadjaran. Ai, Ampapaga dolok, ampapaga ni humbang, hita do marsogot, hita nang hadua. Ai olat ni solhot, ni partondongonta on, nama partondongan, naung masa di hita Batak.

Ba, ia anaknami si ……………….. sai ro mardalani tu huta on. Dijalo pangisi ni huta on antong, so dung hea hona hata, nang pe hurang malo maruhum. Ba di ujuna, nunga unduk masioloan anak nami dohot borumuna asa hot ripe. Bai i do na pinarsinta ni rohanami! Ai molo magodang anak pangolihononhon, magodang boru pamulion. Na saihot do i, saparanggunan. Ba, haroronami on pe, na pasahathon anaknami i masa asa gabe anakmuna. Ai na nidok na:  Na ro do hami pasahathon anaknami i asa gabe  helamuna, naeng ma tarunduk haoloan manang sadia utang siampehononmuna. Alai nidok pe songon i, tongtong do sigodang utang parboruon tu parhulahula. Buhul hamu ma disi, sadia utang sigararonnami. Asal ingot hamu umpama i:

Madekdek ma lanteung, tongon tu tarumbara.
Unang dok hami parteus, silehonon do soada.
Boti ma hatanami !

Parboru: Ba, nunga binege hata ni hamu paranak. Godang ma pasahat hamu sinamot, boli ni boru i, ai parsinamot na godang do hamu. Jala on dope raja i parhulalan matumona mangolihon anak. Nda na naeng helanami on do buha ni raja i?
Paranak:       “I do tulang”, ninna sada halak mangalusi.
Parboru:    “Ba, anggo i do hape, ba guru doknami nama mangido! Tole ma panggomakkon hamu ma na sian i jambarnami be! Ai tung boli ni boru ma na tumabo jaloon di siulubalang ari on!” (Margakargak ma sude na pungu i umbege hata ni parboru i. Dungi masiigilan ma nasida di sinamot upa suhut sihabolonan sijaloon ni ama ni boru i. Tung nania do lelengna dihatai nasida i, asa marune tu na denggan. Dungi dihatai nasida ma muse jambar ni sijalo bara, todoan, bola tambirik, tulang pariban, upa ompu, simandokkon dohot jambar ni anak manjae, i ma ginoar parjambaran na gok. Dungi dipasahat nasida ma ,”bohi ni sinamot” tu suhut sihabolonan. Songon i nang “patujolo ni jambar” tu pangalambungi. Sidung i, diganupi ma na pungu i “pasituak na tonggi” asa lam tu tonggina parnidaan tu joloan on. (Adong do na mamangke hata “parniahapan” singkat ni “parnidaan”). Dungi marhata sigabegabe, sidenggandenggan ma nasida.

Paranak:        Hamu rajanami, hulahulanami! Nunga masiunduhan masioloan hita di godang ni sinamot. Nasa hatanami na hurang lobi nangkin di na masiigilan hita, unang be taingot i! Tasalpuhon ma i sian roha.
Ai didok umpama:
Purpar pande dorpi, lao tu dimposna; sip parmihimmihim, lao tu hotokna parlotingan di tombonan, baen parsisiraan, asal ma tondinta masigomgoman, Jadi do hita masisaritaan, alai unang antong masihabitan. Ai rujiruji do sinamot, holong i ndang jadi mago. Boti ma hatanami !

Parboru:         Olo tutu, hamu raja ni parboruon, songon i do hataon sinamot boli ni boru! Nunga godang sai naeng na hurang godang; Boasa? Ala jotjotan masa, ranggas tumutungi bonana, Ala godang ni sihobasan mangoloi pangidoan ni boru, ro di nasa sipatupaon. Nuaeng pe, asi ma roha ni Tuhanta Debata di hamu parboruon! Sai silu ma antong pansarianmuna, asa tarlehon hamu sahat sasude sinamot na niunduk, nioloanmuna. Tiur ma dalan tu jae, manalutus dalan tu julu, bolusonmuna, mangaluluk pansarian. Balintang ma pagabe, tumondangkon sitadaon, Horas ma hita jala gabe, Jala olo masiolan, Asa saut haroan marharoan. I ma tutu! (Ninna sude na pungu i)

Parboru:         Ia on pe nuaeng, hamu paranak! Jujur hamu ma ari, sadihari haroronami “maningkir lobu”. Marguru di hamu do i! Alai naeng ma tumibu botoonnami, asa diboto dongan manarihon langkanan. Ai nania do sian hami martigatiga dohot parkarejo masuk malam.

Paranak:        Antong ro pe hatanami paboahon ari harorormuna. Di bulan na ro on ma i mareakhon tula.

Dungi dihobasi suhut i ma sipanganon siboanon ni pangoli i. Dipamasuk ma sude na margoar ni juhut i tu bagasan parindahanan na imbaru. Dipanuti ma i denggan. Alai molo adong boru tondong nasida di huta i, leanonnasida do jambar ni i, ai i do adatna. Boru pandongani ni nasida i ma mamboan parindahanan na pinahutan i, dingkan pudi mardalan. Hasangapon do i dietong, marhahipason ibana mangihuthon hulahulana dohot marhata sinamoti. Ndada haleaon.
Dungi borhat ma parboru tu huta ni paranak di ari na binuhul pasaut adat i “Maningkir lobu”. Maningkir lobu patamba harorosu ni pihak paranak tu pihak parboru. Alai sai adong do na padomuhon na dua i gabe sada. Ulaon na marhata Sinamot i, laos i ma maningkir lobu. Sian dos ni roha. Satonga be ma nasida di harugian tu juhut na binuat di tingki i. Jotjotan masa i ala hudus ni langka ni pangoli manopot ulaonna tu luat na dao. Asa marguru tu tingki do hajajadi ni ulaon paradatan i. Ndada marguru di panjujuron ni datu be. Lam leleng lam jotjot, lam sesa ma pasipasi ni hasipelebeguon.

Nikson Simangunsong

Nisalin sian ragam buku dohot paradaton na nidohotan

SONGON ON MA HAMI PATANAKHON HATA NI DEBATA NAPOSOBULUNG HKBP DAME RESORT PULO JAHE

  Shalom semua ✨ Selamat beraktifitas 🙌   Mari kita datang memuji dan memuliakan nama Tuhan dalam Ibadah Penelaahan Alkitab Naposobulung  H...